| View previous topic :: View next topic |
| Author |
Message |
kitasatu Site Admin
Joined: 19 Apr 2006 Posts: 5
|
Posted: Wed Apr 19, 2006 6:01 am Post subject: Playboy Edisi Perdana |
|
|
Majalah playboy edisi perdana sudah lama beredar. Dalam forum diskusi tetangga yang saya ikuti, ternyata pada edisi pertama itu tak satupun ada halaman yang menampilkan perempuan tel*nj*ng. Justru banyak artikel2 populer yang bagus untuk pengembangan wawasan.
Apakah ummat Islam yang sampai hari ini meminta Playboy tak diterbitkan, menolak Playboy karena merupakan representasi dari kepornoan atau apakah karena Playboy icon "majalah begituan" dari Amrik?
Selain itu, di kalangan yang mendukung playboy beralasan, kalau pornografi itu seni. Pernyataan itu keluar dari kalangan selebritis. Bagaimana kita menasehati mereka? |
|
| Back to top |
|
 |
MT
Joined: 19 Apr 2006 Posts: 3 Location: anyer
|
Posted: Wed Apr 19, 2006 1:12 pm Post subject: Re: Playboy Edisi Perdana |
|
|
| kitasatu wrote: |
kalangan yang mendukung playboy beralasan, kalau pornografi itu seni. Pernyataan itu keluar dari kalangan selebritis. Bagaimana kita menasehati mereka? |
buat saya, porno itu bukan seni. porno ya porno, seni ya seni. Kalangan selebritis itu wajar kalau bilang porno itu seni, karena mereka tak memahami arti seni. Selama ini mereka menganggap dunia mereka adalah seni, hal itu disebabkan karena dari kepornoan itulah mereka bisa hidup.  _________________ Jabat Erat!
MT |
|
| Back to top |
|
 |
fanya
Joined: 19 Apr 2006 Posts: 1
|
Posted: Wed Apr 19, 2006 1:41 pm Post subject: Itu Sudah Biasa... |
|
|
| Berita akan terbitnya aja udah bikin pro dan kontra, uda barang tentu si penerbit nggak brani langsung menggeber gambar2 yang bener2 tel*njang (lagipula porno tu nggak harus selalu tanpa busana kan?). Janji dari mas erwin yang katanya tdk akan meniru 100% Playboy luar juga bukan hal luar biasa yang bisa mengubah pandangan org yang tdk setuju dg lahirnya Payboy Ind. Sudah biasa kan klo ada org mencoba meraih simpati dg cara-2 spt itu? Awalnya bisa jd Playboy berwujud majalah yang 'sopan', tapi lama-lama, setelah memiliki tempat di hati masy, bisa jadi kan dia kembali ke wujud semula dg alasan memenuhi kebutuhan pembaca? Ah, pokoknya say the big NO deh buat Playboy... (nggak bakal bikin tambah pinter deh dg artikel2 yg katanya berwawasan) |
|
| Back to top |
|
 |
allsunday
Joined: 19 Apr 2006 Posts: 1 Location: di suatu kota
|
Posted: Wed Apr 19, 2006 11:58 pm Post subject: Re: Itu Sudah Biasa... |
|
|
| fanya wrote: | | Awalnya bisa jd Playboy berwujud majalah yang 'sopan', tapi lama-lama, setelah memiliki tempat di hati masy, bisa jadi kan dia kembali ke wujud semula dg alasan memenuhi kebutuhan pembaca? Ah, pokoknya say the big NO deh buat Playboy... (nggak bakal bikin tambah pinter deh dg artikel2 yg katanya berwawasan) |
gw setuju bgt!
trus klo mo memperdebatkan antara seni dan pornografi..itu ga akan ada pernah selesai, karena pasti orang2 yg merasa hal2 seperti itu adalah seni akan tetep kekeh bahwa itu adalah suatu seni,..
gw cuma mo ngingetin buat orang2 yg kaya gitu kalo
seni memang tidak salah..
tapi jangan sampai anda "menuhankan" seni!! ok.. _________________ hidup ini memang tidak mudah... |
|
| Back to top |
|
 |
AL KIFAH
Joined: 27 Apr 2006 Posts: 7 Location: Yogyakarta
|
Posted: Thu Apr 27, 2006 2:02 am Post subject: Waspadai SEmangat Hawa Nafsu yang hina |
|
|
| Quote: | | Maraknya opini yang digencarkan untuk menolak RUU Anti Pornografi dan Porno Aksi di Indonesia, semakin jelas menunjukkan betapa pandangan hidup yang dapat menyelamatkan manusia telah tertutupi oleh semangat hawa nafsu yang hina. Islam tak lagi dijadikan pedoman dan tergantikan oleh pola hidup yang hedonis. |
Kemudian, tersingkirnya Islam dalam tatanan mu’amalah manusia juga menunjukkan indikasi ini. Sehingga wajar acap kali kita jumpai orang-orang yang gerak hidupnya tanpa arah dan makna, generasi muda yang hatinya linglung dan terlenakan oleh fatamorgana kesenangan dunia.
Hal ini diperparah lagi dengan banyaknya orang Islam yang turut menolak RUU APP tersebut. Sungguh aneh! Walalupun RUU APP ini belum menjamin akan terselesaikannya dekadensi moral yang telah menjadi masalah sistemik, kenapa masih banyak yang justru menolak substansinya? Dipaksa masuk syurga kok tidak mau, malah pengen masuk neraka berbondong-bondong?
Oleh itu, patut kita cermati kenapa sampai terjadi hal sedemikian? Bukankah Islam telah mengajarkan bahwa setiap kali jantung berdetak adalah harus (selalu) terpompakan oleh semangat aqidah? Lupakah mereka bahwa telah tertanam bagi setiap muslim kewajiban untuk menjadikan Allah swt. sebagai tujuan, al-qur’an dan Sunnah sebagai pedoman, Rasulullah sebagai tauladan dan syahid adalah cita-cita perjuangan? Padahal karakteristik yang semestinya dimiliki oleh setiap muslim tersebut telah menjadi rahasia sekaligus inti dari risalah kenabian yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw.
Lantas, kenapa manusia masih abaikan syari'at Islam?  |
|
| Back to top |
|
 |
dd
Joined: 17 May 2006 Posts: 1
|
Posted: Wed May 17, 2006 11:33 pm Post subject: ayoo sekolah ..... |
|
|
kawan-kawan yang terhormat .....
kawan2xku tahukah kawan-kawan tentang apa itu seni, bila kawan2x mengatakan bahwa seni adalah keindahan berarti kawan2x sudah tahu
bahwasanya dalam seni kebebasan mutlak diperlukan, porno atau tidak sebenarnya adalah penilaian masing2x orang, bahkan karya2x pelukis terkenalpun sering memperlihatkan keindahan wanita.
RUU APP mungkin bisa menjadi solusi, namun juga bisa menjadi kesalahan fatal bagi demokrasi di Indonesia
Indonesia adalah negara yang plural, sehingga kita tidak bisa menetapkan dasar moral keyakinan kita pada orang lain.....
bagi saya hal yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi secara bijaksana terhadap yang namanya pornografi, Tolak...harus, namun juga jangan melupakan Pluralisme di Indonesia
bagi saya menolak playboy adalah tidak membelinya,melarang keluarga saya dan menganjurkan orang-orang yang saya kenal saya untuk membeli atau membacanya |
|
| Back to top |
|
 |
AL KIFAH
Joined: 27 Apr 2006 Posts: 7 Location: Yogyakarta
|
Posted: Thu May 18, 2006 8:26 pm Post subject: |
|
|
dd bilang :
"...... bagi saya menolak playboy adalah tidak membelinya,melarang keluarga saya dan menganjurkan orang-orang yang saya kenal saya untuk membeli atau membacanya".
Komentar singkat saya :
Mas, secara pribadi mungkin Anda bisa.. Jutaan keresahan masyarakat lain bagaimana? Apakah Anda bisa menghentikan kebobrokan moral tersebut? Pertanyaan kemudian adalah apakah kita rela membiarkan kian bobroknya semangat spiritualitas generasi Muslim di Indonesia?
Kita semua mafhum bahwa kepornoan adalah masalah umat. Untuk itu. masalah yang sistemik ini harus pula diselesaikan dengan penanganan sistemik, bukan parsial sebagaimana yang sdr. dd maksud.
Wallahua'lam...! |
|
| Back to top |
|
 |
dshandayani
Joined: 17 Jul 2006 Posts: 2 Location: Batam
|
Posted: Mon Jul 17, 2006 8:38 am Post subject: |
|
|
Sangat Setuju bila majalah Playboy dihilangkan ( juga majalah atau tabloid lain yang identik ). Dari nama majalahnya saja banyak yg tau, laki2 atau perempuan content yg ada di dalam majalah ini ( coba survey apa kata orang indonesia mulai dari remaja ke atas ... apa yg anda tau ttg majalah Playboy? jawabannya sama .... ya sama dengan apa yg anda pikirkan sekarang) dan fantastisnya mereka tak sampai 1 % bilang .... oh Playboy yang majalah seni itu ya .... hehehe jadi kira2 yang dibilang seni itu dimananya ya ? Masa bodoh dengan negara lain ( diluar indonesia ) well kita hidup di Indonesia man .... gak lah kalau hidup dengan moral yg begituan. Jangan deh. Mungkin ia Edisi perdana seperti itu .... coba deh liat edisi ke 10 atau sebelum sebelumnya malah. Tau khan kebiasaan masyarakat Indonesia ... kalau itu tidak digubris oleh pemerintah, banyak lagi majalah2 sejenis itu yang muncul. Weleh sekarang masyarakat kita sudah banyak yg bobrok moralitasnya kecil, muda, tua akibat nonton vcd/film por***fi tinggal berapa % yang masih terjaga moralnya .... sayang. Hik .. Hik
----------------------------------
http://mp3-player-new-trend-gadget.blogspot.com
http://home-interior-design-tips-article.blogspot.com |
|
| Back to top |
|
 |
|